SELAMAT DATANG DI BLOG INI. MOHON MA'AF BILA ADA YANG KURANG BERKENAN. SEMOGA ARTIKELNYA BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA.
Tampilkan postingan dengan label Penelitian Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelitian Ilmiah. Tampilkan semua postingan

Kunci Sukses Membuat Proposal Penelitian Pendidikan

I. PENDAHULUAN
Metodologi atau Metode Penelitan yang tepat dan benar semakin dirasakan urgensinya dan menjadi peringkat sangat penting bagi keberhasilan suatu riset (penelitian). Salah satu hal yang penting dalam setiap penelitian adalah perumusan metodologi penelitian. Melalui metodologi harus dengan jelas tergambar diantaranya bagaimana cara penelitian dilaksanakan yang tertata secara sistimatis, bagaimana landasan teori tentang rancangan penelitian (research design), model yang digunakan (didahului dengan rancangan percobaan (penelitian eksperiment) atau teknik – teknik yang lumrah digunakan dalam pengumpulan, pengolahan dan analisa data.

Etnografis

Ethnographi merupakan salah satu model penelitian yang lebih banyak terkait dengan anthropologi, yang mempelajari peristiwa cultural, yang menyajikan pandangan hidup subyek yang menjadi obyek studi. Lebih jauh ethonographik telah diperkembangkan menjadi salah satu model penelitian ilmu-ilmu social yang menggunakan landasan filsafat phenomenologi. Studi ethnographic merupakan salah satu deskripsi tentang cara mereka berfikir, hidup, berprilaku; kalau sbyek studi kita anak-anak TK, maka kita peneliti berupaya menghayati dan mendeskripsikan bagaimana anak TK menghayati interaksi di TK, bagaimana persepsi mereka (bukan persepsi berdasar angan kita yang dewasa). Ethnographi bukan deskripsi kehidupan masyarakat kita dalam beragam situasinya, sebagaimana adanya: dalam kehidupan kesehariannya, cara mereka memandang kehidupan, perilakunya dan semacamnya. Ethnomethodologi merupakan metodologi penelitian yang mempelajari bagaimana perilaku social dapat dideskripsikan sebagaimana adanya. Istilah ethnometodologi dikemukakan oleh Harold Garfinkel.

Etnometodologi

Etnometodologi bukanlah metode yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, melainkan menunjuk pada mata pelajaran yang akan diteliti. Etnometodologi adalah studi tentang bagaimana individu menciptakan dan memahami kehidupannya sehari-hari – metodenya untuk mencapai kehidupan sehari-hari. Subyek etnometodologi bukanlah anggota suku-suku terasing, melainkan orang-orang alam pelbagai macam situasi dalam masyarakat kita. Etnometodolog berusaha memahami bagaimana orang-orang mulai melihat, menerangkan, dan menguraikan keteraturan dunia tempat mereka hidup.
Banyak antropolog menggunakan pendekatan fenomenologi dalam studi mereka tentang pendidikan. Kerangka studi antropologisnya adalah konsep kebudayaan. Usaha untuk menguraikan kebudayaan atau aspek-aspek kebudayaan dinamakan etnografi. Walaupun diantara mereka kurang sependapat tentang definisi kebudayaan, mereka memandang kebudayaan sebagai kerangka teoretis dalam menjelaskan pekerjaan mereka.

Interaksi Simbolik

Bersamaan dengan perspektif fenomenologis, pendekatan ini berasumsi bahwa pengalaman manusia ditengahi oleh penafsiran. Objek, orang, situasi, dan peristiwa tidak mempunyai pengertiannya sendiri, sebaliknya pengertian itu diberikan untuk mereka. Misalnya seorang teknolog pendidikan mungkin menentukan proyektor 16 mm sebagai alat yang akan digunakan ole guru untuk memperlihatkan film-film yang relevan  dengan tujuan pendidikan; seorang guru barangkali menetapkan penggunaan proyektor tersebut sebagai alat rekreasi untuk siswa apabila ia kehabisan bahan pelajaran sewaktu mengajar atau apabila ia sudah letih. Pengertian yang diberikan orang pada pengalaman dan proses penafsirannya adalah esensial serta menentukan dan bukan bersifat kebetulan atau bersifat kurang penting terhadap pengalaman itu.

Pendekatan Fenomenologi

 Peneliti dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Sosiologi fenomenologis pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh Edmund Husserl dan Alfred Schultz. Pengaruh lainnya berasal dari Weber yang memberi tekanan pada verstehn, yaitu pengertian interpretatif terhadap pemahaman manusia. Fenomoenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti oleh mereka.

Format Penelitian Kualitatif

Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistic-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.

Jenis-jenis Penalitian Pendidikan


Penelitian dapat digolongkan / dibagi ke dalam beberapa jenis berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, antara lain berdasarkan: (1) Tujuan; (2) Pendekatan; (3) Tempat; (4) Pemakaian atau hasil / alasan yang diperoleh; (5) Bidang ilmu yang diteliti; (6) Taraf Penelitian; (7) Teknik yang digunakan; (8) Keilmiahan; (9) Spesialisasi bidang (ilmu) garapan. Berikut ini masing-masing pembagiannya.

Tahapan Proses Penelitian Deskriptif.

Tahapan penelitian deskriptif, secara umum tidak jauh berbeda dengan tahapan penelitian-penelitian yang lain. Berikut ini disajikan tahapan penelitian deskriptif.

1. Mengidentifikasi, memilih dan merumuskan masalah penelitian
Penelitian deskriptif dimulai dari munculnya minat peneliti terhadap suatu fenomena yang sedang menjadi perhatian peneliti.. Pada suatu saat selalu ada fenomena yang belum sepenuhnya dimengerti atau mungkin terjadi perbedaan pendapat tentang suatu fenomena tertentu. Atau mungkin juga dalam situasi tertentu tidak dapat berjalan dengan semestinya sesuai rencana dan prosedur yang telah ada. Situasi tersebut menunjukkan ada kesenjangan antara yang seharusnya dengan kenyataan, antara yang diperlukan dengan yang tersedia, antara harapan dengan capaian. Hal tersebut dapat dijadikan obyek penelitian yang unik dan menarik, sehingga perlu pengembangan atau penyempurnaan melalui penelitian. Fenomena tersebut kemudian disusun menjadi masalah penelitian yang lebih jelas dan sistematis dengan memanfaatkan informasi ilmiah yang sudah tersedia dalam literatur yaitu teori

Langkah Penelitian Pendidikan

Sebuah penelitian beranjak dari masalah yang ditemukan atau dirasakan. Yang dimaksud masalah adalah setiap hambatan atau kesulitan yang membuat seseorang ingin memecahkannya. Jadi sebuah masalah harus dapat dirasakan sebagai satu hambatan yang harus diatasi apabila kita ingin melakukan sesuatu. Dalam arti lain sebuah masalah terjadi karena adanya kesenjangan (gap) antara kenyataan dengan yang seharusnya. Penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah itu, atau dengan kata lain dapat menutup atau setidak-tidaknya memperkecil kesenjangan itu.

Penelitian Pendididkan

Penelitian pendidikan pada umumnya mengandung dua ciri pokok, yaitu logika dan pengamatan empiris (Babbie, 1986:16). Kedua unsur penciri pokok penelitian ini harus dipakai dengan konsisten, artinya dua unsur itu harus memiliki hubungan fungsional-logis. 
Dalam hal ini logika merujuk kepada : 
(a)    pemahaman terhadap teori yang digunakan. 
(b) asumsi dasar yang digunakan oleh peneliti ketika akan memulai kegiatan penelitian.
Di samping itu pengamatan empiris bertolak dari :
(a)   hasil kerja indera manusia dalam melaksanakan observasi.
(b) kekuatan pemahaman manusia terhadap data-data lapangan.

Approach Phenomenology

Researchers in the view of phenomenological attempts to understand the meaning of events and linkages to the ordinary people in certain situations. Phenomenological sociology basically strongly influenced by Edmund Husserl and Alfred Schultz. Other influences came from Weber who put pressure on verstehn, namely interpretive understanding of human understanding. Fenomoenologi not assume that researchers know the meaning of something for people who are being investigated by them.

Phenomenological inquiry started with silence. Silence is an action to uncover the meaning something that is being studied. Emphasized by the phenomenologists is subjective aspects of people's behavior. They tried to enter the conceptual world of subjects studied in such a way that they understand what and bagaiaman a notion developed by them in the vicinity of the incident in his daily life. The phenomenologist believes that living things available on various ways to interpret the experience through interaction with others, and that understanding is our experience that forms reality.

There are various branches of qualitative research, but all the same opinion about the purpose penertian research subjects, namely view from "their perspective". If examined carefully, the phrase "from their perspective" to the problem. The problem is "in terms of their view" is not an expression used by the subjects themselves and not necessarily represent the way they think. "From their point of view" is how researchers use it as an approach in her work. So, "from their point of view" is konstrak research. Viewing the subject from this perspective the results probably will force the subject is to experience a world foreign to him.
Actually, the world's efforts to interfere with the subjects by researchers however necessary in the study. If not, researchers will make the interpretation and should have a conceptual framework to interpret. Qualitative researchers believe that the approach others with the aim of trying to understand their views to hinder the experience of subjects. For qualitative researchers there is a difference in (1) The degree to overcome the problem of methodological / conceptual and (2) how to overcome them. Some researchers tried to make "pure phenomenological description." On the other hand, other researchers less care and trying to form abstraction by interpreting data based on "their point of view." Whatever the position of a researcher, which obviously he must be aware of the problem is theoretical and methodological issues.
    
Phenomenological qualitative researchers tend to be oriented, but most of them are not radicals, but the idealist view. They put pressure on the subjective aspect, but they do not need menoklak reality is "in there", meaning they do not need urgent or contrary to the views of those able to resist the action. As an illustration given example, such teachers may believe that he is able to penetrate the brick wall, but to achieve it requires thinking. Essentially, the stone was hard to penetrate, but the teacher does not need to feel that he is unable to walk through that wall.

Kulaitatif researchers emphasize subjective thinking because, as they see, the world is dominated by the subjects that are less harsh  with stones. Man about the same as 'small engine' that can do something. We live in our imagination, more symbolic than concrete background.